Balai Pengolahan, Pemasaran dan Pengendalian Hasil Hutan (BP3HH) Provinsi Jawa Barat.
BP3HH JAWA BARAT
MENU
Selamat Datang di Website Resmi Balai Pengolahan, Pemasaran dan Pengendalian Hasil Hutan (BP3HH) Provinsi Jawa Barat.

Hasil Hutan Bukan Kayu Lebih Menjanjikan


KUNINGAN, (PR).- Hasil hutan bukan kayu yang bisa dikelola dan dijadikan sumber perekonomian masyarakat sekitar hutan jauh lebih banyak dan menjanjikan dibandingkan dengan hasil hutan berupa kayu. Demikian satu hal yang ditonjolkan dan digambarkan melalui wahana West Java Forest Festival ke-2 tahun 2016 di Taman Wisata Alam Linggarjati, Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Sabtu-Minggu, 22-23 Oktober 2016.

WJFF atau Pesta Kehutanan Jawa Barat itu merupakan agenda tahunan Pemerintah Provinsi Jabar. WJFF pertama tahun 2015 digelar Dinas Kehutanan Jabar di Taman Hutan Raya Djuanda. Dan, penyelenggaraan WJFF 2 tahun 2016 dipercayakan Dinas Kehutanan Jabar kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Kuningan.

WJFF 2 tahun 2016 itu dibuka oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan diwakili oleh Kepala Dinas Kehutanan Jabar Budi Susatijo. Dihadiri Bupati Kuningan Acep Purnama dan unsur pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Kuningan, serta segenap unsur pimpinan dan para pelaku pembangunan kehutanan di Jabar.

Kepala Dishutbun Kuningan selaku Ketua Pelaksana WJFF 2 tahun 2016 Bunbun Budhiyasa menyebutkan, melalui kegiatan tersebut pihaknya ingin menyampaikan tentang betapa besarnya potensi sumber daya hutan untuk pemberdayaan masyarakat. "Festival ini dapat dijadikan ajang silaturahmi, bertukar informasi dan saling menyampaikan pengalaman sukses masing-masing. Bahkan kami berharap dapat dijadikan juga ajang promosi dan transaksi," kata Bunbun.

Hal senada dikemukakan Kepala Dinas Kehutanan Jabar Budi Susatijo. Selain itu, ujarnya, juga sebagai wahana untuk mendorong para pihak mengembangkan pengelolaan hutan ke depan yang menitik-beratkan pada perolehan hasil hutan bukan kayu.

"Sebagaimana kita ketahui selama ini pengelolaan hutan seakan-akan hasilnya hanya kayu. Padahal banyak potensi usaha lain yang bisa didorong melalui pembangunan kehutanan yang tidak berbasis kayu. Misalnya jasa wisata, dan berbagai jenis hasil hutan bukan berupa kayu, supaya konsep konservasi tetep bertahan," katanya.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam sambutannya mengharapkan WJFF 2016 dapat meningkatkan kinerja para pihak di bidang kehutanan dalam menciptakan lapangan kerja. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dengan tetap menjaga kelestarian hutan sehingga dapat menjaga pembangunan berkelanjutan.

Sumber daya hutan di Indonesia, ujar gubernur memberikan peranan penting dalam menghasilkan devisa negara. "Pada masa-masa awal pembangunan eksploitasi sumber daya hutan hanya berorientasi pada timber base management (manajemen dasar kayu) yang menitik-beratkan pada kepentingan ekonomi semata," katanya.

Dampaknya, potensi sumber daya hutan di Indonesia mengalami penurunan yang sangat berarti, sehingga paradigma pembangunan dan pengelolaan hutan harus dirubah. Dari orientasi ekonomi, ke arah pembangunan kehutanan yang berorientasi pada resourch and community base development (sumber daya dan basis pengembangan masyarakat.

Pemanfaatan multi fungsi hutan untuk ekonomi dan lingkungan sosial, bagi negara dan masyarakat, ujarnya, sekarang tidak lagi dilihat dari hasil hutan kayu, tetapi dari potensi hutan lainnya. Seperti di antaranya eko wisata dan jasa lingkungan yang selama ini dipandang sebelah mata dan dianggap hanya hasil hutan ikutan dalam pengusahaan hutan kayu.

Sementara itu, wahana WJFF 2 tahun 2016 yang digelar selama dua hari di objek wisata tersebut diiisi berbagai kegiatan. Di antaranya loka karya hutan lestari bersama lembaga masyarakat desa hutan, atrakasi seni, serta pameran aneka jenis produk hasil hutan bukan kayu, dan kayu olahan para pelaku usaha kecil menengah dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Seperti di antaranya kopi, gula semut berupa gula aren dalam bentuk serbuk, madu, jamur, teh hutan, minyak nilam, dan bibit tanaman hasil budi daya masyarakat sekitar hutan.

Bupati Kuningan Acep Purnama, mengharapkan penyeelnggaraan WJFF esensinya tidak hanya dijadikan ajang tontonan dan promosi semata. Namun harus mengandung tuntunan sebagai bagian dari sebuah proses pembelajaran menuju pembangunan kehutanan di Jabar yang lebih baik di masa kini dan masa yang akan datang.

Acep menyatakan, Kuningan sebagai kabupaten konservasi akan terus dipertahankan, bahkan akan segera diperkuat dengan reguilasi berupa peraturan daerah.

Makna konservasi di Kuningan, tutur Acep, diartikulasikan secara luas dan lugas, sehingga kondisi sumber daya alamnya tetap lestari dan masyarakatnya semakin sejahtera. "Konsep ini lah yang sekarang ini sedang kami gadang-gadang sebagai konsep yang tidak mementingkan skala lokal tetapi juga skala regional bahkan global," katanya.***

 

Sumber (Pikiran Rakyat)


Share:

Harga Rata-Rata Komoditas Hasil Hutan di Jawa Barat (Last Update: 3 September 2015)

LINK TERKAIT

STATISTIK PENGUNJUNG

Informasi data statistik kunjungan pengguna ke website BP3HH Prov. Jawa Barat.

Sedang Online
:   1
Kunjungan Hari Ini
:   14
Kunjungan Bulan Ini
:   1131
Kunjungan Tahun Ini
:   5020
Total Kunjungan
:   14476
JEJAK PENDAPAT

Bagaimana ketersediaan data pada website BP3HH Provinsi Jawa Barat?

Banyak
51%
Cukup
26%
Kurang
23%
KONTAK KAMI

Kantor BP3HH Provinsi Jawa Barat
Jalan Raya Kanci KM 10 Desa Kanci Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. 45181
Telp./Fax. (0231) 510094